Panduan Lengkap Tata Cara Sholat di Pesawat untuk Jemaah Haji dan Umrah
Arsip Digital • Panduan Haji dan Umroh

Panduan Lengkap Tata Cara Sholat di Pesawat untuk Jemaah Haji dan Umrah

Aba Digital Library
Penulis Official Aba
Tahun 2026

Perjalanan menuju Tanah Suci sering kali memakan waktu berjam-jam, bahkan belasan jam. Dalam kondisi ini, tidak sedikit jemaah yang bertanya-tanya: bagaimana cara melaksanakan sholat ketika berada di dalam pesawat?

Islam sebagai agama yang sempurna telah memberikan kemudahan dalam beribadah, termasuk bagi musafir yang sedang dalam perjalanan jauh. Oleh karena itu, meskipun berada di dalam pesawat, kewajiban sholat tetap harus dilaksanakan sesuai kemampuan.

Panduan Sholat di Pesawat

Kewajiban Sholat Tetap Berlaku dalam Perjalanan

Sholat merupakan kewajiban utama yang tidak gugur dalam kondisi apa pun, selama seorang muslim masih berakal dan sadar. Hal ini berlaku juga bagi jemaah haji dan umrah yang sedang berada di dalam pesawat menuju Makkah atau Madinah.

Allah SWT berfirman: “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu…” (QS. At-Taghabun: 16) Ayat ini menjadi dasar bahwa ibadah tetap dilakukan, namun disesuaikan dengan kemampuan.

  1. Menghadap Kiblat Semampunya

    Menghadap kiblat merupakan salah satu syarat sah sholat, namun dalam kondisi di pesawat hal ini sering kali tidak mudah dilakukan karena arah penerbangan yang terus berubah. Oleh karena itu, jamaah dianjurkan untuk berusaha menghadap kiblat semampunya, terutama saat takbiratul ihram. Jika tidak memungkinkan, maka sholat tetap sah dilakukan sesuai arah yang tersedia, karena Islam memberikan kemudahan dalam kondisi seperti ini.

    Untuk membantu menentukan arah, jamaah dapat bertanya kepada kru pesawat, menggunakan aplikasi penunjuk kiblat, atau memperkirakan arah berdasarkan posisi pesawat. Yang terpenting bukanlah kesempurnaan arah, melainkan kesungguhan dalam menjalankan ibadah sesuai kemampuan.

  2. Sholat Bisa Dilakukan Sambil Duduk

    Dalam kondisi ruang yang terbatas di dalam pesawat, jamaah diperbolehkan melaksanakan sholat sambil duduk di kursi. Posisi ini menjadi bentuk keringanan yang diberikan dalam Islam agar ibadah tetap bisa dilakukan tanpa menyulitkan diri. Tata caranya dilakukan dengan tetap menjaga urutan gerakan sholat, yaitu rukuk dengan membungkukkan badan ke depan, kemudian sujud dengan posisi yang lebih rendah dibandingkan rukuk.

    Meskipun tidak dilakukan seperti sholat di lantai, gerakan ini tetap sah selama perbedaan antara rukuk dan sujud terlihat jelas, serta dilakukan dengan penuh kekhusyukan dan kesadaran.

  3. Tidak Harus Berdiri Jika Tidak Memungkinkan

    Berdiri memang merupakan salah satu rukun dalam sholat fardhu, namun kewajiban ini dapat gugur apabila seseorang tidak mampu melakukannya. Dalam kondisi di pesawat, di mana ruang gerak sangat terbatas dan faktor keselamatan menjadi prioritas, jamaah tidak perlu memaksakan diri untuk berdiri jika tidak memungkinkan.

    Jika tersedia ruang dan kondisi memungkinkan, seperti di lorong pesawat, maka boleh melaksanakan sholat dengan berdiri. Namun jika tidak, sholat tetap sah dilakukan dalam posisi duduk, karena Islam tidak membebani hamba-Nya di luar batas kemampuan.

  4. Boleh Menjamak dan Mengqashar Sholat

    Sebagai musafir, jamaah haji dan umrah mendapatkan keringanan berupa jamak dan qashar dalam sholat. Sholat Zuhur dapat digabung dengan Ashar, serta Maghrib dengan Isya, baik dengan cara jamak taqdim maupun ta’khir. Selain itu, sholat yang berjumlah empat rakaat seperti Zuhur, Ashar, dan Isya dapat diringkas menjadi dua rakaat (qashar).

    Keringanan ini merupakan bentuk rahmat dari Allah SWT agar ibadah tetap dapat dijalankan dengan mudah selama perjalanan panjang, tanpa mengurangi nilai dan keutamaan sholat itu sendiri.

  5. Menentukan Waktu Sholat di Pesawat

    Menentukan waktu sholat saat berada di dalam pesawat memang memerlukan perhatian lebih, karena tidak adanya penanda waktu seperti adzan atau aktivitas sekitar. Namun jamaah tetap dapat memperkirakan waktu dengan melihat posisi matahari, menggunakan aplikasi jadwal sholat, atau bertanya kepada kru pesawat.

    Beberapa maskapai juga memberikan informasi waktu sholat kepada penumpang. Yang terpenting adalah tetap berusaha melaksanakan sholat dalam waktunya semampu mungkin, sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.

  6. Menjaga Kekhusyukan dan Kesederhanaan

    Meskipun berada di dalam pesawat dengan berbagai keterbatasan, jamaah tetap dianjurkan untuk menjaga kekhusyukan dalam sholat. Suasana yang tidak ideal bukanlah penghalang untuk menghadirkan hati yang tenang dan fokus kepada Allah. Justru dalam kondisi seperti ini, seorang hamba diuji untuk tetap mengingat Allah di mana pun berada.

    Sholat di perjalanan mengajarkan bahwa kedekatan dengan Allah tidak ditentukan oleh tempat, melainkan oleh keikhlasan dan kesungguhan hati dalam beribadah.

Tata Cara Sholat di Pesawat Secara Praktis

Setelah memahami prinsip dan kemudahan dalam sholat di pesawat, berikut tata cara pelaksanaannya yang bisa dilakukan oleh jamaah dalam kondisi duduk:

  • Takbiratul ihram, dilakukan sambil duduk di kursi dengan mengangkat tangan

  • Bersedekap, kemudian membaca doa iftitah

  • Membaca Al-Fatihah dan dilanjutkan dengan salah satu surah dalam Al-Qur’an

  • Rukuk, dilakukan dengan membungkukkan badan ke depan

  • I’tidal, kembali ke posisi duduk tegak

  • Sujud, dilakukan dengan posisi badan lebih condong ke bawah dibandingkan rukuk

  • Duduk di antara dua sujud, tetap dalam posisi duduk di kursi

  • Melakukan gerakan yang sama pada rakaat berikutnya

  • Sholat diakhiri dengan salam

Sholat di pesawat adalah bukti bahwa Islam adalah agama yang memudahkan, bukan menyulitkan. Dalam setiap keterbatasan, selalu ada jalan untuk tetap beribadah.

Maka, jangan tinggalkan sholat meskipun sedang dalam perjalanan. Justru di sanalah nilai penghambaan semakin terasa—ketika seorang hamba tetap mengingat Allah di tengah perjalanan panjang menuju rumah-Nya.