Hal-Hal yang Disunnahkan Nabi Muhammad SAW Saat Umrah, Menyempurnakan Ibadah dengan Tuntunan Sunnah
Arsip Digital • Panduan Haji dan Umroh

Hal-Hal yang Disunnahkan Nabi Muhammad SAW Saat Umrah, Menyempurnakan Ibadah dengan Tuntunan Sunnah

Aba Digital Library
Penulis Official Aba
Tahun 2026

Ibadah umrah bukan hanya tentang melaksanakan rukun dan wajibnya saja, tetapi juga tentang bagaimana seorang jamaah berusaha menyempurnakannya dengan mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ. Di setiap rangkaian ibadah, terdapat amalan-amalan yang dicontohkan oleh beliau yang jika diamalkan akan menambah nilai pahala dan kesempurnaan ibadah.

Di Tanah Suci, khususnya di Masjidil Haram, setiap langkah yang mengikuti sunnah menjadi bentuk kecintaan seorang hamba kepada Nabi Muhammad ﷺ sekaligus wujud ketaatan kepada Allah SWT.

Sunnah Umrah

Makna Mengikuti Sunnah dalam Umrah

Mengikuti sunnah bukan sekadar meniru, tetapi menghadirkan kesadaran bahwa ibadah dilakukan sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ.

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…” (QS. Al-Ahzab: 21)

Para ulama seperti Imam Nawawi menjelaskan bahwa mengikuti sunnah dalam ibadah akan menyempurnakan amalan yang wajib dan menjadi sebab diterimanya ibadah tersebut.

Hal-Hal yang Disunnahkan Saat Umrah

Berikut amalan-amalan sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah ﷺ selama umrah:

  1. Mandi dan Memakai Wewangian Sebelum Ihram

    Sebelum memasuki keadaan ihram, Rasulullah ﷺ memberikan contoh yang sangat indah tentang pentingnya kebersihan dan kesiapan diri, baik secara fisik maupun spiritual. Beliau mandi dan memakai wewangian sebelum berniat ihram, sebagai bentuk penghormatan terhadap ibadah yang akan dijalankan. Amalan ini menjadi salah satu sunnah yang sangat dianjurkan bagi jamaah yang akan memulai umrah maupun haji.

  2. Memperbanyak Talbiyah: Menjawab Panggilan Allah Sepanjang Perjalanan

    Setelah seorang jamaah berniat ihram, maka ia dianjurkan untuk memperbanyak membaca talbiyah. Talbiyah bukan sekadar bacaan, tetapi merupakan pernyataan langsung seorang hamba bahwa ia memenuhi panggilan Allah SWT untuk datang ke Tanah Suci.

    Di sepanjang perjalanan menuju Masjidil Haram, lantunan talbiyah menjadi dzikir utama yang terus dihidupkan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabat.

  3. Idtiba’ dan Ramal Saat Tawaf (Khusus Laki-laki)

    Dalam pelaksanaan tawaf di Masjidil Haram, terdapat dua amalan sunnah yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah ﷺ, yaitu idtiba’ dan ramal. Keduanya menjadi bagian dari kesempurnaan tawaf, khususnya pada tawaf umrah atau tawaf qudum (tawaf kedatangan).

    Meskipun tidak termasuk rukun, amalan ini memiliki nilai historis, simbolis, dan spiritual yang sangat kuat dalam ibadah.

  4. Mencium atau Mengisyaratkan Hajar Aswad: Sunnah yang Sarat Makna Tauhid

    Salah satu amalan sunnah yang sangat dikenal dalam tawaf di Masjidil Haram adalah mencium Hajar Aswad. Setiap kali jamaah melewati titik ini, dianjurkan untuk menghidupkan sunnah Rasulullah ﷺ sebagai bentuk ittiba’ (mengikuti Nabi).

    Namun, di balik amalan yang terlihat sederhana ini, terdapat makna yang sangat dalam tentang tauhid, ketaatan, dan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ.

  5. Shalat Sunnah Dua Rakaat Setelah Tawaf

    Setelah menyelesaikan tujuh putaran tawaf di Masjidil Haram, jamaah dianjurkan untuk melaksanakan shalat sunnah dua rakaat sebagai bentuk penyempurna ibadah tawaf.

    Amalan ini dicontohkan langsung oleh Rasulullah ﷺ dan menjadi salah satu sunnah yang sangat dianjurkan setelah tawaf.

  6. Tahallul dengan Mencukur Rambut (Halq) Lebih Utama dari Memendekkan (Taqsir)

    Tahallul adalah penutup dari rangkaian ibadah umrah, yaitu dengan mencukur atau memendekkan rambut setelah menyelesaikan tawaf dan sa’i di Masjidil Haram. Pada tahap inilah seorang jamaah keluar dari keadaan ihram dan kembali diperbolehkan melakukan hal-hal yang sebelumnya dilarang.

    Meskipun terlihat sederhana, tahallul memiliki kedudukan penting karena menjadi tanda sempurnanya ibadah umrah seseorang.

Hikmah Mengamalkan Sunnah Saat Umrah

Menghidupkan sunnah Rasulullah ﷺ dalam setiap rangkaian umrah bukan sekadar pelengkap ibadah, tetapi merupakan jalan untuk meraih kesempurnaan penghambaan kepada Allah SWT. Di tengah suasana sakral di Masjidil Haram, setiap sunnah yang diamalkan menjadi bukti nyata kecintaan seorang hamba kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Lebih dari itu, sunnah menghadirkan dimensi ruhani yang membuat ibadah tidak hanya sah secara hukum, tetapi juga hidup secara makna.

Hal-hal yang disunnahkan Rasulullah ﷺ saat umrah adalah pelengkap yang menyempurnakan ibadah. Dengan mengamalkannya, jamaah tidak hanya menjalankan umrah secara sah, tetapi juga mengikuti jejak Nabi dalam setiap langkahnya.