Mekah dan Madinah

Encyclopedia Entry • 2026

Ketika Unta Rasulullah Menentukan Lokasi Masjid Nabawi

Kota Madinah menyimpan banyak kisah penting dalam sejarah Islam. Di kota inilah Rasulullah ﷺ membangun masyarakat Islam pertama setelah hijrah dari Makkah. Salah satu kisah yang menarik sekaligus penuh makna adalah peristiwa ketika unta tunggangan Rasulullah berhenti di suatu tempat yang kemudian menjadi lokasi berdirinya Masjid Nabawi.Peristiwa ini terjadi pada awal kedatangan Rasulullah ﷺ di Madinah. Saat itu, penduduk Madinah yang dikenal sebagai kaum Anshar telah lama menunggu kedatangan beliau dengan penuh harap. Penantian Penduduk MadinahKetika kabar hijrah Rasulullah ﷺ dari Makkah mulai terdengar, kaum Anshar setiap hari keluar dari rumah mereka untuk menunggu kedatangan Nabi. Mereka berdiri di pinggiran kota sejak pagi hari, berharap dapat menjadi orang pertama yang menyambut beliau.Jika matahari sudah terlalu terik dan Rasulullah belum juga datang, mereka kembali ke rumah masing-masing. Penantian itu berlangsung berhari-hari.Hingga akhirnya pada hari Senin, 12 Rabiul Awal tahun pertama Hijriyah (23 September 622 M), sebuah peristiwa terjadi yang mengubah suasana Madinah.Seorang lelaki Yahudi yang sedang berada di atas bangunan tinggi melihat dua orang dari kejauhan yang berjalan menuju kota. Ia segera berteriak memanggil penduduk:“Wahai orang-orang Arab, inilah orang yang kalian tunggu!”Seruan itu langsung membuat penduduk Madinah berhamburan keluar dari rumah mereka. Suara takbir menggema menyambut kedatangan Rasulullah ﷺ.Sahabat Nabi, Abu Darda’, menggambarkan suasana itu dengan mengatakan:“Aku tidak pernah melihat penduduk Madinah lebih bergembira dengan sesuatu sebagaimana kegembiraan mereka ketika Rasulullah datang.”(HR. al-Bukhari)Singgah di QubaSebelum memasuki pusat kota Madinah, Rasulullah ﷺ terlebih dahulu singgah di daerah Quba, wilayah Bani ‘Amr bin ‘Auf. Beliau tinggal di sana selama sekitar dua minggu.Di tempat ini Rasulullah membangun Masjid Quba, yang dikenal sebagai masjid pertama yang didirikan setelah peristiwa hijrah.Setelah itu, Rasulullah ﷺ melanjutkan perjalanan menuju kota Madinah.Setiap Rumah Mengundang RasulullahKetika Rasulullah ﷺ memasuki kota Madinah, suasana penuh kegembiraan terasa di seluruh penjuru kota. Setiap keluarga berharap Rasulullah tinggal di rumah mereka.Setiap kali beliau melewati sebuah rumah, pemilik rumah akan memegang tali kekang unta Rasulullah sambil berkata:“Wahai Rasulullah, tinggallah di rumah kami.”Namun Rasulullah ﷺ tidak langsung memilih tempat tinggal.Beliau berkata:“Biarkan ia berjalan, karena sesungguhnya ia diperintah.”Yang dimaksud adalah unta tunggangan Rasulullah. Beliau membiarkan unta itu berjalan tanpa diarahkan, seakan menyerahkan penentuan tempat kepada kehendak Allah.Unta Rasulullah Berhenti di Bani NajjarUnta Rasulullah terus berjalan melewati rumah-rumah penduduk hingga akhirnya berhenti di sebuah tanah kosong di wilayah Bani Najjar.Namun Rasulullah ﷺ belum turun.Unta itu kemudian bangkit kembali dan berjalan beberapa langkah, lalu kembali lagi ke tempat yang sama dan berhenti di sana.Barulah Rasulullah ﷺ turun dari punggungnya.Tempat itu berada tepat di depan rumah seorang sahabat bernama Abu Ayyub Al-Anshari. Tanah tersebut kemudian dibeli untuk dijadikan lokasi pembangunan masjid.Di tempat inilah kemudian berdiri Masjid Nabawi, yang hingga hari ini menjadi salah satu masjid paling mulia dalam Islam.Rasulullah Tinggal di Rumah Abu AyyubSelama pembangunan Masjid Nabawi berlangsung, Rasulullah ﷺ tinggal sementara di rumah Abu Ayyub Al-Anshari.Rumah tersebut terdiri dari dua lantai. Awalnya Rasulullah tinggal di lantai bawah, sementara Abu Ayyub dan istrinya berada di lantai atas.Namun Abu Ayyub merasa tidak nyaman berada di atas Rasulullah. Ia berkata kepada istrinya bahwa mereka seakan berjalan di atas kepala Nabi.Karena rasa hormat yang sangat besar, Abu Ayyub akhirnya meminta agar Rasulullah pindah ke lantai atas. Rasulullah ﷺ kemudian memenuhi permintaan tersebut.Kisah ini menunjukkan betapa besar kecintaan para sahabat kepada Rasulullah.Awal Berdirinya Pusat Peradaban IslamTanah tempat berhentinya unta Rasulullah kemudian dibangun menjadi Masjid Nabawi. Masjid ini tidak hanya menjadi tempat shalat, tetapi juga pusat kegiatan umat Islam.Di masjid inilah Rasulullah ﷺ mengajarkan Al-Qur’an, memimpin umat, dan membangun sistem kehidupan masyarakat Islam yang kemudian menjadi dasar bagi perkembangan peradaban Islam.Peristiwa ini menjadi salah satu momen penting dalam sejarah Islam. Dari sebuah tanah kosong tempat berhentinya unta Rasulullah, lahirlah sebuah masjid yang hingga hari ini menjadi tujuan jutaan umat Islam dari seluruh dunia.Bagi kaum Muslimin, Madinah bukan sekadar kota bersejarah. Ia adalah tempat lahirnya masyarakat Islam pertama dan saksi dari perjuangan Rasulullah dalam membangun peradaban yang berlandaskan iman dan akhlak.(*)

Oleh Penulis Aba Tour
Mekah dan Madinah

Encyclopedia Entry • 2026

Makkah dan Madinah: Jantung Iman dan Cahaya Peradaban

Makkah dan Madinah bukan sekadar dua kota suci dalam sejarah Islam, tetapi dua pusat spiritual yang membentuk identitas dan peradaban umat Muslim di seluruh dunia. Bagi lebih dari 1,8 miliar Muslim, keduanya adalah poros iman, tempat lahirnya risalah, serta tujuan perjalanan spiritual yang paling agung dalam hidup seorang hamba. Di sanalah sejarah, ibadah, dan harapan bertemu dalam satu ruang yang sama: ruang ketundukan kepada Allah SWT.Makkah dikenal sebagai jantung spiritual umat Islam. Sejarahnya menyatu dengan fondasi Islam itu sendiri. Di kota inilah Ka’bah berdiri sebagai simbol tauhid dan pusat orientasi umat Muslim di seluruh dunia. Setiap hari, jutaan Muslim dari berbagai negara menghadap ke arah yang sama ketika menunaikan shalat—menghadap Ka’bah, arah yang disebut sebagai kiblat. Kesatuan arah ini bukan sekadar simbol geografis, tetapi lambang kesatuan iman dan tujuan hidup.Di pusat kota Makkah berdiri Masjid al-Haram, masjid terbesar di dunia yang mengelilingi Ka’bah. Masjid ini bukan hanya bangunan fisik megah, melainkan ruang suci yang menjadi saksi jutaan doa, tangisan taubat, dan permohonan harapan. Ka’bah sendiri diselimuti kain hitam sutra yang dikenal sebagai Kiswah, yang diganti setiap tahun sebagai bentuk penghormatan terhadap rumah Allah tersebut. Masjid al-Haram menjadi tempat berkumpulnya jutaan jamaah saat musim haji dan sepanjang tahun dalam ibadah umroh, menjadikannya pusat spiritualitas global yang tiada banding.Makkah juga memiliki makna mendalam dalam pelaksanaan rukun Islam kelima, yaitu haji. Setiap Muslim yang mampu secara fisik dan finansial diwajibkan menunaikan ibadah ini setidaknya sekali seumur hidup. Haji menjadikan Makkah sebagai titik temu umat Islam dari berbagai bangsa, bahasa, dan budaya. Di kota ini, perbedaan melebur dalam keseragaman ihram dan kalimat talbiyah yang sama. Makkah bukan hanya kota suci, tetapi simbol persaudaraan universal umat Islam.Di luar dimensi ibadah, Makkah adalah kota yang hidup dan berkembang. Pasar-pasarnya yang ramai, situs-situs bersejarahnya, serta pembangunan modern yang terus bertumbuh menunjukkan perpaduan unik antara tradisi kuno dan kehidupan kontemporer. Kota ini terus bertransformasi untuk melayani jutaan jamaah setiap tahun, namun tetap mempertahankan aura sakral yang menjadi ciri khasnya sejak ribuan tahun lalu.Perjalanan menuju Makkah bagi seorang Muslim bukan sekadar perjalanan fisik lintas negara, tetapi perjalanan batin menuju kedekatan dengan Allah. Setiap langkah menuju Masjid al-Haram membawa perasaan haru yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Bagi yang menunaikan haji, ia adalah puncak penghambaan. Bagi yang melaksanakan umroh, ia adalah momentum penyucian diri. Dan bagi siapa pun yang sekadar berziarah, Makkah tetap menjadi tempat yang menyentuh hati secara mendalam.Jika Makkah adalah kota kelahiran Islam dan pusat tauhid, maka Madinah adalah kota cahaya dan peradaban. Di Madinah, Muhammad ﷺ membangun masyarakat Islam pertama yang berlandaskan keadilan, persaudaraan, dan nilai kemanusiaan. Kota ini menjadi saksi hijrah, perjuangan, dan lahirnya sistem sosial yang menjadi fondasi peradaban Islam.Masjid Nabawi berdiri megah di Madinah, menjadi salah satu masjid paling suci dalam Islam. Di dalamnya terdapat Raudhah, area yang disebut Rasulullah sebagai taman surga. Di kota ini pula Rasulullah ﷺ dimakamkan, menjadikan Madinah bukan hanya kota sejarah, tetapi kota cinta bagi umat Islam. Banyak jamaah merasakan ketenangan yang berbeda ketika berada di Madinah—suasana yang lebih tenang, lebih syahdu, dan penuh kedamaian.Madinah juga mencerminkan harmoni antara sejarah dan perkembangan modern. Situs-situs bersejarah seperti Masjid Quba, Masjid Qiblatain, dan Jabal Uhud mengingatkan jamaah pada perjalanan panjang dakwah Islam. Setiap lokasi menyimpan kisah perjuangan, pengorbanan, dan keteguhan iman yang menjadi inspirasi sepanjang masa.Kunjungan ke Makkah dan Madinah adalah pengalaman spiritual yang mendalam dan tak tergantikan. Keduanya bukan sekadar destinasi geografis, tetapi pusat makna dan identitas bagi setiap Muslim. Di Makkah, seorang hamba belajar tentang tauhid dan kepasrahan total. Di Madinah, ia belajar tentang cinta, akhlak, dan keteladanan Rasulullah ﷺ.Pada akhirnya, perjalanan ke dua kota suci ini adalah perjalanan transformasi. Ia mengajarkan kerendahan hati di hadapan Ka’bah dan kelembutan hati di hadapan makam Nabi. Ia mempertemukan manusia dengan sejarah suci sekaligus dengan dirinya sendiri. Dan ketika seorang jamaah kembali dari Makkah dan Madinah, yang ia bawa pulang bukan hanya kenangan, tetapi semangat baru untuk menjalani hidup dengan iman yang lebih kuat dan hati yang lebih bersih.

Oleh Penulis Aba Tour